Langsung ke konten utama

Sirah Nabawiyyah: Perang Badr

PERANG BADR AL-KUBRA
A.      LATAR BELAKANG PERANG
Diriwayatkan, bahwa sekembali Nabi s.a.w dan kaum Muslimin dari ‘Usyairah,maka selang berapa hari Nabi s.a.w menerima kabar, bahwa di suatu desa yang bernama Badr, ada seorang bernama Kurz bin Jabir Al-Fihry merusak tanaman dan merampas buah-buahan kepunyaan penduduk di Madinah; maka itu Nabi dengan segera lalu barangkat bersama kaum Muslimin (yang jumlahnya di dalam kitab-kitab Tarikh yang telah kami ketahui tidak disebutkan). Berangkat Nabi ini sengaja hendak mengejar perampas dan perusak tadi, tetapi setelah Nabi sampai di Badr, perampas dan perusak tadi telah dapat meloloskan diri,oleh sebab itu pertempuran itu tidak terjadi.
Nama Badr ini adalah nama suatu tempat mata air yang letaknya di antara Makkah dan Madinah, tetapi lebih dekat Madinah ; dan perang ini di dalam kitab-kitab tarikh di sebutkan Perang Badr al-ula dan di sebutkan pula peang Safwan. Nama Safwan ini adalah nama suatu jurang di dekat Badr.
Diriwatkan, bahwa setelah ada kejadian perampasan dan perlawanan yang di kepalai oleh ‘Abdullah bin Jahsyi, maka kaum Musyrikin Quraisy ketika itu bertambah naik darahnya, sangat marahnya terhadap perbuatan kaum Muslimin. Oleh sebab itu pada saat itu mereka pada waktu akan mengakan angkatan perdagangan ke negri Syam lalu berjaga-jaga, sebab perjalanan angkatan mereka pergi dan pulangnya adalah melalui tepi kota Madinah, padahal waktu itu keadaan kota Madinah sudah boleh di katakan menjadi suatu kota bagi kaum pengikut Nabi Muhammad s.a.w .
Kemudian pada suatu hari Nabi s.a.w mendapat kabar bahwa seperangkatan Unta kaum Quraisy dengan muatan dagangan dari Mekkah sedang berangkat menuju ke negri Syam sebagaimana biasa. Angkatan di ikuti oleh 30 orang Quraisy dan di kepalai oleh seorang kepala Quraisy yang bernama Abu Sufyan bin Harb, banyaknya unta memuat dagangan ada1000 unta dan yang di muatnya seharga 50.000 dinar.
Kemudian pada suatu Hari nabi s.a.w menerima kabar bahwa angkatan mereka tengah kembali dari negeri Syam, dan hendak pulang ke Mekkah; sebab itu sudah tentu saja tidak berapa lama lagi berjalan melalui daerah kota Madinah. Pada waktu itu Nabi s.a.w lalu memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya mengawasi angkatan kaum Quraisy yang sedang kembali dari negeri Syam tadi, agar mereka jangan sampai mengganggu keamanan kota Madinah. Oleh sebagian kaum Muslimin, perintah Nabi yang sedemikian itu lalu diikuti dengan segera, karena di sangka oleh mereka bahwa Nabi tidak akan berperang, tetapi akan menakut-nakuti angkatan Quraisy semata-mata.
Kemudian pada hari tanggal 3 bulan ramadhan, sesudah Nabi s.a.w menyerahkan pimpinan kota Madinah kepada sahabatnya Abdullah bin Ummi Maktum, berangkatlah Nabi s.a.w bersama tentara islam sebanyak 313 dengan bersenjata lengkap. Di antara mereka 2 orang berkendaraan seekor unta. Nabi s.a.w bersama sahabat Ali bin Abi Thalib dan Murtsad berkendaraan seekor unta, sahabat Abu Bakar, Umar dan Abdurahman bin Auf berkendaraan seekor unta juga, dan demikianlah selanjutnya. Bendera islam ketika itu rupanya putih dan di bawa oleh sahabat Mush’ab bin Umair, seraya di muka kendaraan nabi ada lagi dua bendera yang satu di bawa oleh sahabat ‘Ali bin Abi Thalib dan satunya lagi di bawa oleh sahabat Sa’ad bin Mu’adz.
Kaum Muslimin sebanyak 313 orang tadi terdiri dari sahabat Muhajirin 82 orang dan sahabat anshor 231 orang, jadi 313 orang. – menurut riwayat Ibnu Hisyam dalam sirahnya, adalah 314 orang terhitung dari sahabat muhajirin 83 orang – riwayat ini pribadi nabi s.a.w adalah 315.
Menurut riwayat Imam As-Suhaili, sebagaimana tersebut dalam kitab Fathul Bari Syarah Bukhari jilid ke-7, bahwa ketika itu jin yang telah mengikut Islam, yang ikut manjadi tentara islam adalah 70 orang.
Perjalanan nabi s.a.w dengan kaum Muslimin setetlah sampai di suatu tempat dekat dusun Shafra’, berhentilah nabi serta tentaranya, lalu menyuruh kepada Basis bin ‘Amr Al-Juhani dan Adi bin Ra’ba’ Al-Juhani supaya menyelidiki dan mendengar-dengarkan kabar seperangkatan unta perdagangan kaum Quraisy di Badr.
Pada saat itu, tiba-tiba kabar kaum Muslimin sebagai tersebut kedengaran oleh Abu Sufyan dan kawan-kawannya. Oleh sebab itu ia lalu minta tolong kepada seorang yang bernama Dhamdham bin ‘Amr Al-Ghifari supaya ia lekas menyampaikan kabar yang menghawatirkan itu kepada ketua-ketua dan kepala-kepala kaum Quraisy di Mekkah. Kemudian dengan segera Dhamdham berangkat ke Mekkah dan setelah sampai ke Mekkah lalu segera menyampaikan adanya kabar rintangan bagi perjalanan dagang angkatan kaum Quraisy tadi yang di perbuat tadi oleh Muhamad dan kaum pengikutnya.
Kepala-kepala  dan ketua-ketua kaum musyrikin Quraisy di Mekkah setelah menerima kabar yang di kirim oleh Abu Sufyan dengan perantaraan Dhamdham tadi, maka dengan seketika itu juga mereka lalu siap mengumpulkan tentara, serta menyediakan alat-alat peperangan dengan selengkap-lengkapnya.
Pada waktu itu setelah mereka mengumpulkan tentara sebanyak 950 orang (dalam riwayat lain 1000 orang), dan masing-masing bersenjata lengkap, lalu berangkat ketempat yang biasa di lalui oleh angkatat-angkatan unta-unta mereka yang di kepalai oleh Abu Sufyan. Pada waktu iti tidak ada orang Quraisy yang gagah berani yang tidak ikut serta menjadi tentara, dan jikalau terpaksa tidak ikut, lalu menyuru orang lain sebagai wakilnya.
Dari pada 1000 orang tadi yang berkuda ada 100 orang lebih, dan yang berkaendaraan unta ada 700 orang, dan 12 orang dari kepala Quraisy yang di serahi urusan makanan dan minuman sekalain tentara, yang membawa benderanya ialah Sa’ib Jazid demikianpun mereka ketika berngkat dengan membawa orang-orang perempuam tukang nyanyi, tukang memukul rebana dan perempuan-perempuan ronggeng yang di pergunakan permainan bagi mereka .
Selanjutnya setelah perjalanan Nabi s.a.w sampai di suatu lembah yang bernama Dzapiran (suatu lembah dekat dusun Shafra) terperanjatlah Nabi s.a.w dan seketika itu turun dari kendaraan, dan tentara islam lalu berhenti, dan sketika itu Nabi s.a.w menerima kabar, bahwa kaum Quraisy telah mengangkatkan pasukan tentaranya dari Mekkah menuju ketempat-tempat yang di buat jalan angkatan perdagangan mereka karena hendak menjaga keamanan perdaganagan mereka di tengah jalan.
Pasukan tentara pada waktu itu di kepalai oleh Abu Jahal bin Hisyam; maka ketika perjalan Abu Sufyan telah selamat dari bahaya dan dapat terlepas dari ancaman kaum Muslimin lalu Abu Sufyan menyuruh seorang kawannya supaya menyusul kepala Quraisy yang di kepalai oleh Abu Jahal, supaya tentara Quraisy kembali saja ke Mekkah, jangan meneruskan perjalanannya dan jangan sampai kejadian bertempur dengan kaum pengikut muhamad. Karena angkatan perdagangan Quraisy telah dapat terlepas dari pada bahaya yang di ancamkan. Demikianlah permintaan Abu Sufyan kepada Abu Jahal dengan perantaraan tadi ketika Abu Jahal sebagai kepala tentara Quraisy menjawab drngan sombong:” kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badr. Sekalipun perdagangan kita sudah sampai di Mekkah, tetapi kita harus meneruskan perjalanan kita sampa di Badr.”
Kemudian setelah mereka sampai di Badr, 3 hari 3 malam mereka berdiam di Badr seraya menunjukan kesombongannya, dan ejekannya kepada kaum Muslimin masing-masing merasa gembira suka ria, bernyanyi-nyanyi, bermain-main dengan perempuan ronggeng yang dibawanya sebagai bunga raja mereka, meminum akan minuman keras dan lain sebagainya. Lebih-lebih mereka merasa, tentara lebih cukup, senjata lebih lengkap dan telah mendapat tempat yang baik di Badr. Seumpama terjadi berperang dengan kaum Muslimin tentu tenaglah yang akan di dapatnya. Demikianlah perasaan mereka masing-masing terutama kepala-kepala dan pahlawan-pahlawan mereka seperti Abu Jahl dan sesamanya; tidak ingat apa yang akan terjadi dikemudiannya. Disangkanya orang yang lemah akan terus lemah selamanya; dan orang yang kuat akan terus kuat selamanya.
B.       PERSIAPAN MASING-MASING KUBU
Kemudian Nabi s.a.w. dengan diiringkan tentaranya terus berjalan sehingga sampai pada suatu lembah yang jauh dari tempat air, dan di tempat yang penuh pasir lagi kering. Adapun tentara Quraisy pun melanjutkan perjalanannya sehingga sampai di suatu tempat (lembah) yang lapang, lagi dekat dengan mata air. Oleh sebab itu waktu itu kaum tentara Islam banyak yang semasa dahaga, dan kekurangan air yang akan dipergunakan untuk menghilangkan hadats, istimewa pula pada malam harinya banyak yang mengandung hadats besar (junub). Dalam pada itu diantara tentara Islam banyaklah yang tergoda oleh syetan. Yakni Syetan-syetan yang mencampakan tipu dayanya pada hati masing-masing tentara Islam yang kena digoda. Demikian was-was yang diperbuat oleh Syetan dalam hati sanubari kebanyakan tentara Islam. Waktu itu oleh karena Nabi s.a.w. mengerti bahwa daripada tentara banyak yang tergoda oleh Syetan, maka ketika itu beliau selalu memohon kepada Allah. Waktu tengah malam dengan sunyi senyap, sedangkan kebanyakan tentaranya tengah tidur nyenyak. Nabi selalu mengerjakan Sholat dan membanyakan permohonan kepda Tuhan. Hanya tuhan sendirilah yang memberi petolongan dengan sepenuh-penuhnya. Oleh sebab itu, waktu itu Tuhan lalu menurunkan Air Hujan dengan lebatnya, yang sebelumnya tidak seorangpun yang menyangka akan ada hujan dengan hebat.
Nabi s.a.w. setelah melihat kedatangan tentara Quraisy yang begitu sombong dan congkak, lalu menghadapkan hati sanubarinya kepada Tuhan sambil memohon:
اَللهُمَّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ اَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا تُحَادُّلَكَ وَتُخَالِفُ اَمْرَكَ وَتُكَذِّبُ رَسُوْلَكَ اَللَّهُمَّ فَنَصْرَكَ الَّذِى وَعَدْتَنِى
“Ya Allah! Itulah kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan congkaknya. Ia memusuhi kepada Engkau, menyalahi perintah-perintah dan mendustakan Rosul Engkau. Ya Allah! Maka pertolongan Engkau yang telah engkau janjikan kepada hamba (itulah yang hamba pohon).”
اَللَّهُمَّ أَحِنْهُمُ الْغَدَاةَ
“Ya Allah! Binasakanlah mereka itu besok pagi hari.”
Kepala tentara Quraisy waktu itu menyuruh seseorang yang bernama ‘Umair bin Wahhab al-Jamhi supaya dengan ke tempat tentara Islam dengan menghitung banyaknnya. ‘Umair lalu dating ke tempat tentara Islam lalu menghitung sebanyaknya, lantas kembali menerangkan kepada kepala tentara Quraisy, bahwa tentara Muhammad 300 orang lebih sedikit.
‘Umair berkata juga: “sekalipun begitu, cobalah kita tilik dulu dari jauh dan dari atas gunung, apakah memang hanya itu belaka adanya tentara Muhammad, ataukah ada lagi yang bersembunyi? Sebab saya khawatir, kalau Muhammad ada menyembunyikan tentaranya dari belakang gunung ini atau itu.
Bagi tentara Quraisy biar merasa bangga dan sombong melihat tentara Islam, maka ketika itu datanglah Iblis dengan diiringkan tentara berpuluh-puluh banyaknya. Iblis menyerupai akan rupanya kepala qabilah bani Mudlij (Saraqah bin Malik) bersama kaum qabilahnya. Iblis berkata kepada kepala-kepala pasukan tentara Quraisy: “Kamu jangan takut memerangi kepada Muhammad dan tentaranya, kalau kamu akan kalah kita dari belakang membela kepada mu. Pendek kata, kamu tidak akan kalah.”
Dalam pada itu, tiba-tiba seketika itu datanglah Malaikat Jibril mengejar Iblis. Maka seketika itu juga, Iblis dan pengiringnya melarikan diri. Dan ketika Iblis melarikan diri, oleh seorang dari pahlawan Quraisy ditanya: “Hendak kemana engkau hai Suraqah? Engkau sudah sanggup hendak  membela kita, tetapi mengapa engkau sekarang hendak pergi dari sini?” Iblis menjawab: “sudahlah saya melihat barang apa yang kamu tidak melihat.”
Kemudian waktu itu ada seorang pahlawan Quraisy yang dengan sombong keluar dari barisan tentaranya. Pehlawan tersebut bernama Aswad bin Abdul-Asad al-Makzumy. Ia keluar terus berjalan menuju ke kolam-kolam yang telah penuh air bagi tentara Islam, sambil berkata: “Saya bersumpah dengan nama Allah. Saya akan merusak kolam-kolam mereka jika tidak dapat lebih baik saya mati.”
Oleh sebab itu, seketika itu terdengarlah oleh sahabat Hamzah; lalu beliau dikejarlah Aswad. Kemudian setelah ternyata ia hendak merusak kolam kepunyaan tentara Islam, lalu didahuli dengan pukulan yang sekeras-kerasnya oleh sahabat Hamzah, maka seketika itu juga jatuhlah Aswad seraya mengucurkan darah yang tidak sedikit, karena dari pukulan Hamzah yang hebatnya, dan seketika itu juga mampuslah Aswad dengan mandi darah.
C.       PERANG TENTARA ISLAM DAN TENTARA QURAISY
Selanjutnya sebagai biasa bagi bangsa Arab seumumnya terutama bagi bangsa Quraisy, apabila kendak berperang, maka dari antara pahlawan-pahlawannya lebih dulu harus bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan musuhnya seorang lawan seorang. Maka dari itu waktu sebelum terjadi pertempuran dan peperangan, kepala tentara Quraisy minta dan menantang dengan secara sombong kepada Nabi s.a.w. supaya Nabi mengeluarkan tiga orang pahlawan tentaranya untuk bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan-pahlawan mengeluarkan tiga orang pahlawan, dan tentara Islam supaya mengeluarkan tiga orang pahlawan juga.
Maka sesudah tantara Quraisy mengeluaarkan 3 orang pahlawannya yang gagah berani di tengah medan yang akan di pergunakan berperang, maka nabi s.a.w lalu bersabda kepada 3 orang pahlawan tentaranya dari golongan sahabat Anshar.  Adapun 3 orang dari pahlawan tentara Quraisy tadi ialah: 1. Utbah bin Rabi’ah; 2. Syaibah bin Rabi’ah, dan 3. Walid bin Utbah. Adapun dari pahlawan tentara islam yang di suruh keluar oleh nabi, ialah: 1. ’Auf  bin Al-Harits  ; 2. Mu’ad bin Harts; dan 3. Abdullah bin Ruwahah masing-masing dari sahabat Anshar . namun 3 orang dari pahlawan Quraisy tersebut meminta kepada Muhammad: “Ya Muhammad! keluarkanlah 3 orang dari golongan kita (Quraisy) yang dari keturunan Hasyim.” Oleh sebab itu nabi s.a.w lalu menyuruh 3 orang Anshar tadi supaya mengundurkan diri, dan menyuruh 3 orang pahlawannya dari golongan bangsa Quraisy dan dari Bani Hasyim. Ialah : 1. Hamzah bin Abdul Muthalib, 2.Ali bin Abi Thalib, dan 3. ‘Ubadah bin Al-Harits.
Kemudian pertandingan mengadu kekuatan dimulai seorang dengan seorang, sahabat ‘Ubaidah dengan ‘Utbah, Hamzah dengan Syaibah, dan Ali dengan Walid. Maka setelah satu persatu saling memukul dan beradu kekuatan, sahabat Hamzah tidak henti-hentinya memberi pukulan kepada Syaibah sampai mati, demikian dengan sahabat Ali tak henti-hentinya memberi pukulan kepada Walid sampai mati pula, namun sahabat ‘Ubaidah diberi pukulan yang sekeras-kerasnya oleh ‘Utbah yang berakhir dengan senjata tajam yang dipukulkan oleh ‘Utbah disebelah lututnya hingga lutut dan kakinya hampir putus. Sahabat ‘Ubaidah pun jatuh, dan segera diangkat oleh Hamzah dan Ali kehadapan Nabi s.a.w kemudian Hamzah dan Ali kembali ke medan pertarungan lalu bertanding lagi dengan ‘Utbah, dan dengan sekejap saja, ‘Utbah dapat dipukul oleh Ali sampai menghembuskan nafasnya dengan sengsara.
Jadi dalam pertandingan tadi tentara Quraisy kehilangan 3 pahlawan, dan tentara Islam kehilangan seorang pahlawannya; dan dengan kejadian ini adalah menjadi suatu tanda, bahwa dalam peperangan nanti kemenangan akan didapat oleh kaum Muslimin.
Setelah selsai pertandingan, lalu Nabi s.a.w keluar dari ‘Arisy (yang dibuat oleh sahabat untuk tempat tinggal Nabi s.a.w ketika peperangan terjadi untuk menjamin kesalamatan diri Nabi) perlu mengatur barisan tentaranya sambil memberi peringatan tentang cara-caranya orang-orang melepaskan anak panahnya kepada musuh dan lain sebagainya
Selanjutnya Nabi s.aw di kala itu – menurut satu riwayat -  menyampaikan peringatan kepada segenap tentara Muslimin, yang artinya: “hai manusia, janganlah kamu mencita-citakan kehendak bertempur dengan musuh, dan memohon ke’afiatan kepada Allah; akan tetapi jika kamu bertemu dengan musuh, hendaklah kamu  bertatahan (berani bertempur dengan musuh), dan ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya surga itu dibawah naungan pedang.”
Kemudian setelah barisan tentara Quraisy dan barisan tentara Muslimin teratur dengan rapi, dan masing-masing barisan sudah saling berhadapan, maka Nabi kembali ke ‘Arisynya bersama Abu Bakar. Lalu sahabat ‘Utbah bin ‘Amr melemparkan dua buah batu di antara ke dua barisan sambil berkata dengan suara yang lantang: ”saya tidak akan lari kecuali jika batu ini telah lari.”
Pertempuran dan peperangan lalu dimulai dengan hebat dan dahsyatnya, dan masing-masing saling menghantam dan mengejar musuhnya [menurut riwayat, permulaan terjadi pertempuran di Badr itu pada hari Jum’at pagi tanggal 17 bulan Ramadan tahun ke-2 Hijrah (13 Maret 624 M). Di antara ulama ahli tarikh yang di riwayatkan itu ialah Ibnu Ishaaq].
Pelembahan Badr yang luas itu telah gelap oleh debu yang beterbangan dinaikan oleh kaki-kaki kedua pasukan yang sedang bertempur mati-matian itu. Dalam sebentar waktu, berpuluh-puluh tentara Musyrikin yang menghembuskan nafasnya, melayan jiwanya dengan meninggalkan badannya, bergelimpangan di atas tanah, bermandikan darah, dilemparkan oleh tombak dan kelewang tentara Muslimin.
Siar tentara kaum Muslimin dikala itu, hanya ucapan:
اَحَدٌ! اَحَدٌ! اَحَدٌ!
“Esa! Esa! Esa!
Artinya: Tuhan Maha Esa!  Tuhan Maha Esa!  Tuhan Maha Esa!
Dari jauh (dari kemah), Nabi s.a.w. senantiasa mengamat-amati dan mengawaskan gerak-gerik tentara Muslimin yang sedang bertempur dan melabrak tentara Musyrikin. Di kala itu beliau dikawal oleh sahabat Abu Bakar r.a. dan Sa’ad bin Mu’adz r.a. dengan pedang yang terhunus, kedua-duanya berdiri tegak di muka pintu ‘Arasy (kemah) Nabi; dan di kala itu beliau tidak ada berhentinya mengucapkan do’a:
اَللَّهُمَّ انْجُزْلِيْ مَاوَعَدْتِنِى اَللَّهُمَّ آتِ مَاوَعَدْتَنِيْ اَللَّهُمَّ اِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعَصَابَةُ مِنْ اَهْلِ الْاِسْلَامِ لَاتُعْبَدْ فِى الْاَرْضِ.
“ya Allah, sempurnakanlah kepadaku segala apa yang telah  janjikan kepadaku! Ya Allah, berikanlah kepadaku apa-apa yang teklah  janjikan kepadaku! Ya Allah,  jika engkau membinasakan pasukan itu dari tentara islam. Tentulah engkau tidak akan di sembah di muka bumi ini.”
Demikianlah do’a Nabi s.a.w.  kepada Allah di kala itu, yang berarti bahwa jika sekiranya Allah mengalahkan tentara kaum muslimin pada hari itu, tidaklah Dia akan disembah oleh ummat manusia yang ada di muka bumi ini.
Dan seketika itu juga – dengan tidak ada suatu sebab apapun jatuhlah diri Nabi s.a.w. dengan mendadak sebagai orang yang pingsan, dan sebagai orang yang sedang mengandung ketakutan, tubuhnya gemetar dan kedinginan; tetapi beberapa menit kemudian, bangunlah beliau dengan tegak lalu bersabda kepada sahabat Abu Bakar r.a.:
اَبْشِرْ يَا اَبَابَكْرٍ، اَتَاكَ نَصْرُ اللهِ، هَذَا جِبْرِيْلُ آخِذًا بِعِنَانٍ فرَسٍ يَقُوْدُهُ عَلَى ثَنَايَاهُ الْنَّقْعُ.
“gembiralah olehmu hai Abu Bakar: telah datang pertolongan Allah kepada engkau.ini Makaikat  Jibril sampai memegang kendali kuda yang ia tuntunnya atas kedua gigi sarinya berdebu.”
Demikianlah sabda beliau yang menunjukan, bahwa pertolongan Allah telah datang kepada tentara kaum Muslimin.
Diriwayatkan, bahwa waktu itu Abu Jahl – sebagai kepala perang pasukan Quraisy Musyrikin – berdo’a kepada Tuhan, yang di antaranya berarti demikian: “Ya Tuhan! Siapakah orang yang lebih cinta kepada Engkau dan yang lebih ridha pada sisi Engkau, maka berilah pertolongan akan dia! Ya Tuhan! Kamilah yang terutama membela kebenaran, maka berilah pertolongan kepada kami! Ya Tuhan! Agama kami yang lama, dan Muhammad yang baru! Ya Allah! Tolonglah Oleh-Mu akan sebaik-baik di antara kedua agama itu!”
Pribadi Nabi s.a.w. setelah melihat perang sengit hebat diantara kedua pasukan, diantara tentara Islam ada juga yang tewas dan gugur dalam pertempuran, sedang tentara musuh berlipat ganda banyaknya, maka ketika itu beliau di samping terus berdo’a kepada Allah dengan Khusyu’ dan khudlu’nya, beliau lalu keluar dari ‘arasynya seraya mengambil segenggam pasir lalu ditaburkan di serakkan ke arah barisan musuh sambil mengucapkan:
شَاهَتِ الْوُجُوْهُ
“Amat hitamlah muka-muka itu.”
Kemudian beliau berdo’a pula:
اَللَّهُمَّ ارْعَبْ فُلُوْبَهُمْ وَزَلْزِلْ اَقْدَامَهُمْ.
“Ya Allah! Takutkanlah hati-hati mereka itu dan goncangkanlah kaki-kaki mereka itu.”
Demikianlah beliau s.a.w berdo’a berulang-ulang, sampai ketika itu terasa pula olehnya, bahwa pertololngan Allah telah tiba. Dalam pada itu beliau memberikan anjuran-anjuran yang dapat menimbulkan semangat membaja bagi tentara Muslimin, agar mereka masing-masing tidak pantang mundur dalam menghadapi lawan yang besar jumlahnya itu. Antara lain beliau bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بَيَدِهِ لَايُقَاتِلُهُمْ الْيَوْمَ رَجُلٌ فَيُقْتَلُ صَابِرًا مُحْتَسِبًا مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ اِلَّا اَدْخَلَهُ اَللهُ الْجَنَّةَ.
“demi tuhan, yang jiwa muhammad-ada-di tangan kekuasaannya hari ini tidaklah seorang memerangi musuh tidak sabar, tahan sampai mati, dengan menghadapkan muka ke arah musuh, bukan mati, membelakang, melainkan allah niscaya memasukannya kedalam surga.”
Mendengar seruan dan undangan suci ini,mak semangat tentara Muslimin semakin berkobar-kobar dan menyala-nyala, dan hati mereka semakin membaja. Dan di kala itu pula Nabi s.a.w. bersabda:
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرِ.
“akan dikalahkan pasukan itu, dan mereka itu akan berpaling membalik ke belakang.”
Demikianlah semangat yang telah diberikan oleh Nabi s.a.w. kepada segenap ummat pengikutnya yang tengah menghadapi lawan yang lebih banyak jumlahnya dan lebih cukup alat perlengkapannya. Dengan demikian, semangat tentara Muslimin di kala itu makin menyala-nyala, masing-masing terus menggempur pihak lawan dan terus menyerbu barisan musuh yang berganda-ganda banyaknya, yang akhirnya tentara Musyrik Quraisy lalu bubar dan mengundurkan diri, karena dalam kalangan mereka telah bercerai-berai dan banyak yang pula mati terbunh dan ter tawan oleh tentara Muslimin.
D.      HASIL PERANG BADR AL-KUBRA
Sebab dari keteguhan dan ketabahan hati segenap tentara Muslimin, sebab kebrsiahan tauhid mereka kepada Allah, sebab dari semangat mereka yang dirabuk oleh iman dan cinta kepada-Nya, dan sebab pimpinan Nabi s.a.w. yang amat ikhlas dan selalu menyerahkan diri kepada-Nya juga, maka sekailpun tentara Muslimin yang jumlahnya sepertiganya dari kaum Musyrikin, dan walaupun alat-alat perlengkapan kaum Muslimin serba kurang kalau dibanding dengan alat-alat perlengkapan tentara Musyrikin, akan tetapi petolongan Allah tetap dikaruniakan kepada tentara Muslimin, yang menyebabkan kemenangan jatuh dan diperoleh tentara Muslimin dengan gilang gemilang.
Abu Jahl sebagai Panglima perang bagi tentara Musyrikin Quraisy yang begitu sombong dan ganas dan yang begitu gagah perkasa lagi bersenjata lengkap, dapat dibunuh oleh sahabat Mu’adz bin ‘Afraa dan lehernya dapat dipancung oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud. Umayyah bin Khalaf, seorang pahlawan quraisy yang begitu congkak dan kejam. Dan ia terkenal telah biasa berperang lagi ketika itu membawa pedang yang gemerlapan, dapat dibunuh oleh Bilal. Bilal ini seorang bekas budak beliannya yang pernah dianiaya dan disiksa olehnya ketika di Makkah sehingga hampir saja tewas, karena ia mengikut seruan Islam. Demikianpun diantara ketua-ketua dan kepala-kepala Musyrikin Quraisy yang selain dari kedua orang tersebut ketika itu mati terbunh dalam keadaan hina dina. Pada hari itu tentara Musyrikin yang mati terbunuh dalam pertempuran ada 70 orang, dan yang tertawan 70 orang juga. Adapun tentara Muslimin yang gugur sebagi pahlawan (mati syahied) hanya 14 orang, terdiri dari: 6 orang dari Muhajirin dan 8 orang dari Anshar.
Diriwayatkan, bahwa ketika Abu Jahl dapat dibunuh oleh Mu’adz bin ‘Afraa dan kepalanya dapat dipancung oleh Abdullah bin Mas’ud., maka kepalanya lalu dibawa kehadapan Nabi s.a.w. tatkala Nabi menyahut:
اَللهُ، لَا اِلَهَ غَيْرُهُ. اللهُ. لَا اِلَهَ غَيْرُهُ. اللهُ، لَا اِلَهَ غَيْرُهُ. اللهُ، قَتَلْتَ اَبَاجَهْلٍ؟
“Allah, tiada tuhan selain Allah. Allah, tiada tuhan selain-Nya Allah, Tiada tuhan yang selain-Nya. Demi Allah, kamu membunuh Abu Jahl.”
Kata ‘Abdullah bin Mas’ud: “Ya” sambil kepala Abu Jahl tadi dilempar ke hadapan Nabi s.a.w. dan beliau seketika itu juga bersujud kepada Allah, menunjukan Syukur kepada-Nya sambil mengucapkan:
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ.
“Segala puji bagi Allah yang benar janji-Nya dan yang telah menolong hamba-Nya dan yang telah mengadakan tentara – musuh – dengan sendiri-Nya.”
Yang perlu diketahui, yang menyebabkan tentara Muslimin memperoleh kemenangan gilang-gemilang di Badr itu dengan singkat demikian itu: pada mulanya Nabi s.a.w. mengambil sikap menangkis dan bertahan; segenap tentara Muslimin diperintah supaya berbaris rapat dan berjalin erat diantara seseorang dengan yang lain, sambil berdiri tegak dan teguh di tempatnya masing-masing sambil menangkis dan menghambat serbuan barisan musuh dan berkuda yang datang bergelombang-gelombang menyerang dari segenap penjuru.
Pasukan tentara Musyrikin yang besar dengan persediaan dan perlengkapan yang serba cukup itu juga sanggup lagi mengempang dan menolak serbuan tentara Muslimin yang mendadak dengan hebat dan dahsyatnya itu. Mereka seketika itu mundur dengan tujuan akan memperbaiki dan mengatur barisan yang sudah kalang kabut dan kucar-kacir. Tetapi tidak disangka-sangka, mereka tidak diberi kesempatan oleh pasukan tentara Muslimin untuk melakukan tujuan itu. Mereka itu terus dikejar habis-habisan hingga mereka kacau balau, kucar-kacir dan akhirnya mendapat kekalahan.
Demikian peperangan itu berakhir dengan kekalahan barisan pasukan Musyrikin Quraisy yang besar jumlahnya itu dan kemenangan tentara Muslimin yang sedikit jumlahnya.
E.       IBROH DARI PERANG BADR
·         Tidak menganggap enteng suatu perkara.
·         Cara yang licik (tidak sehat/tidak sportif tidaklah akan menang, namun kekalahan yang akan didapatnya Jangan sombong, congkak, dang menganggap rendah seseorang (suatu kaum).
·         Menghargai pendapat orang lain.
·         Ta’at kepada pimpinan adalah suatu kewajiban.
·         Allah akan memberikan syafa’at (pertolongan-nya) apabila kita beserah diri dan selalu meminta kepada-nya.
·         Harus selalu ingat kepada allah pada setiap keadaan.
·         Meneladani sikap gagah berani dan pentang menyerah para sahabat terdahulu.
·         Tidak bersekutu (meminta pertolongan) dengan iblis, syetan, jin, kepada para normal, dukun, dll. Pada zaman sekarang ini.
·         Tidaklah Orang yang lemah akan terus lemah selamanya; dan orang yang kuat akan terus kuat selamanya.
·         Berani mengorbankan harta, keluarga, dan jiwa demi menegakkan agama Allah.
·         Memilih antara yang benar dan yang salah, haq dan bathil, halal dan haram, serta baik dan buruk.
·         Percaya bahwa janji allah itu nyata, dan akan terjadi.
·         Tidak menyekutukan allah subhanahu wata’alla.
F.        REFERENSI
Kelengkapan Tarikh Nabi s.a.w.,  karya K.H. Moenawar Chalil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sirah Nabawiyyah: PERANG MURAISI’ (BANU MUSTHALIQ)

PERANG MURAISI’ (BANU MUSTHALIQ) A.       LATAR BELAKANG PERANG Diriwayatkan, bahwa setelah lima bulan sekembali Nabi dan para tentara Muslimin pulang dari perang Daumatul-Jandal (antara orang-orang Muslim dengan penduduk sekitar jalan di sebuah kota yang terletak di Negri Syam) , tiba-tiba suatu hari sampailah kepada beliau yang menyatakan, bahwa Harts bin Dhirar kepala qabilah Banu Musthaliq telah menganjurkan kepada kaumnya dan kepada bangsa ‘Arab dari lain-lain qabilah, supaya mengumpulkan kekuatan bersama-sama, baik tentara ataupun senjata guna memerangi kaum Muslimin.   Harts bin Dhirar tadi pernah mengirim bantuan kepada kaum Musyrikin Quraisy di Makkah ketika terjadi peperangan di Uhud (Perang Uhud), dan dari sebab ketika itu ia mendapat hasutan dari kepala-kepala Quraisy Makkah, supaya memerangi kaum Muslimin, maka ia lalu menganjurkan kepada kaumnya dan kaum-kaum qabilah lainnya. Adapun qabilah Banu Musthaliq tadi, ialah suatu qabil...

Tentang LIZA FAMILY "Berbagi, Menginspirasi, dan Bermanfaat" (1)

Tentang LIZA FAMILY "Berbagi, Menginspirasi, dan Bermanfaat" Logo Kami "LIZA FAMILY GRUP"  Halaman Facebook  Halaman Facebook #LizaFamily Temui kami pada Tagar (Hastag (#)) #LizaFamily Admin: Mughnirahman (Email: Mughnirahman@gmail.com)

Wawasan: Mengtik Arab

DAFTAR HURUF ARAB DI KEYBOARD D ي H ا N ى F ب C ؤ J ت Z ئ E ث M ة / ـة [ ج B لا P ح Shift H أ O خ Shift Y إ ] د Shift T لإ ` ذ Shift G لأ V ر Shift N آ . ز Shift B لآ S س Shift Q َ A ش Shift W ً W ص Shift A ِ Q ض Shift S ٍ ‘ ط Shift E ُ / ظ Shift R ٌ U ع Shift ~ ّ Y غ Shift X ْ T ف Shift P ؛ R ق Shift . . ; ك Shift K ، G ل Shift O × L م Shift I ÷ K ن Shift L / , و Shift J ـ I ...